Monday, April 18, 2011

Riset Pemasaran

Riset Pemasaran

Sistem Riset Pemasaran
Riset pemasaran diartikan sebagai perancangan, pengumpulan, analisis, dan pelaporan data dan temuan secara sistematis, yang relevan dengan situasi pemasaran tertentuyang dihadapi perusahaan. Perusahaan-perusahaan riset pemasaran terbagi dalam tiga kelompok, yaitu:

Proses Riset Pemasaran
Riset Pemasaran yang efektif melibatkan lima langkah, yaitu :
Manajer pemasaran harus berhati-hati agar tidak mendefinisikan sutu masalh terlalu luas atau terlalu sempit bagi periset pemasaran.
Tahap ini mengharuskan penyusunan rancangan yang paling efisien untuk mengumpulkan informasi yang diperlukan. Perancangan rencana riset membutuhkan keputusan berikut:
Periset dapat mengumpulkan data sekunder, data primer, atau keduanya. Data sekunder adalah data yang dikumpulkan untuk maksud lain dan data itu telah ada di tempat tertentu. Data primer adalah data segar yang dikumpulkan untuk maksud tertentu atau untuk proyek riset tertentu.
Data primer dapat dikumpulkan dengan cara, sebagai berikut :
Merancang rencana pengambilan sampel memerlukan tiga keputusan, yaitu : Unit pengambilan sampel, Ukuran sampel, Prosedur pengambilan sampel.
Setelah rencana pengambilan sampel ditentukan, periset pemasaran harus memutuskan bagaimana cara menghubungi subjek, dapat melalui surat, telepon, bertemu muka, atau wawancara online.
Merupakan tahap yang paling mahal dan paling sering terjadi kesalahan.
Proses menyaring temuan-temuan yang berguna dari data yang dikumpulkan . Peneliti membuat tabulasi dan distribusi frekuensinya.
Sebagai langkah riset pemasaran terakhir, para peneliti menyajikan temuan-temuan mereka. Peneliti harus menyajikan temuan-temuan mereka yang relevan dengan keputusan pemasaran utama yang dihadapi manajemen .
Para manajer yang mengadakan riset perlu memberi bobot atas buktinya.
Mengukur Produktivitas Pemasaran
Tugas penting pemasaran adalah menilai efisiensi dan efektivitas aktivitas pemasaran. Dua pendekatan yang dapat digunakan untuk mengukur produktivitas ini adalah :
Merupakan perangkat ukuran yang membantu perusahaan menghitung, membandingkan, dan mengintrepretasikan kinerja pemasarn mereka.

Peramalan dan Pengukuran Permintaan
Ukuran pasar bergantung pada jumlah pembeli yang mungkin ada untuk tawaran pasar tertentu, ada beberapa cara untuk menguraikan pasar :
  • Potensi Pasar Total
Jumlah penjualan maksimum yang mungkin tersedia bagi seluruh perusahaan pada industri tertentu selama periode yang sudah tertentu. Cara umum untuk mengestimasinya adalah estimasikan jumlah potensi pembeli dan kalikan dengan jumlah rata-rata yang dibeli oleh seorang pembeli serta kalikan dengan harganya.
  • Potensi Pasar Wilayah
Ada dua metode yang digunakan untuk menilai potensi pasar, yaitu : metode pembentukan pasar yang digunakan oleh para pemasar bisnis/perusahaan dan metode indeks berbagai faktor yang digunakan khususnya oleh para pemasar konsumen/barang konsumen.
  • Penjualan Industri dan Pangsa Pasar
Perusahaan perlu mengetahui penjualan industri aktual yang terjadi di pasarnya, yang berarti mengidentifikasi para pesaingnya dan mengestimasi penjualan mereka.
Untuk mengestimasi permintaan yang akan datang perusahaan dapat melakukan survey atas maksud pembeli, meminta masukan dari tenaga penjualnya, mengumpulkan pendapat para pakar, dan melakukan uji pasar.

Pemanfaatan Internet Sebagai Sarana Meningkatkan Penjualan Barang Elektronik Yang Efektif Dan Efisien Di Yogyakarta

 Latar Belakang

Seiring dengan perkembangan Teknologi khususnya dibidang teknologi informasi dan internet banyak merubah paradigma tetang pemasaran diseluruh dunia. Sejak awal abad 20 teknologi informasi kerap dijadikan suatu alat pengungkit atau leverage bagi marketer atau pemasar didunia. Karena media ini sangat berkembang sangat cepat, sehingga sasaran target pasar sasaran bisa tercapai. Selain Efektif karena dapat menyentuh langsung target pasar sasaran, pemasaran dalam internet juga efisien dalam hal biaya. Sehingga media ini sangat menarik bagi perusahaan khususnya perusahaan elektronik dalam memasarkan produk dalam kota Yogyakarta.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasi permasalahan yang berkaitan dengan pemanfaatan internet dalam memasarkan produk elektronik di Yogyakarta. Karena di kota Yogyakarta cenderung masih sedikit perusahaan yang berani memasarkan secara online di internet di bandingkan dengan kota lainnya semisal Jakarta dan Surabaya.


Meskipun banyak permasalahan yang berkaitan dengan pemanfaatan internet, namun dalam penelitian ini hanya membatasi pada masalah pemanfaatan internet sebagai sumber pemasaran yang efektif dan efisien khususnya di kota Yogyakarta.
Untuk memperjelas permasalahan yang akan diteliti, maka masalah tersebut dirumuskan sebagai berikut :
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :





Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat :
.
Internet adalah kependekan dari inter-network. Secara harfiah mengandung pengertian sebagai jaringan komputer yang menghubungkan beberapa rangkaian (www.wikipedia.com). Jaringan internet juga didefinisikan sebagai jaringan komputer yang mampu menghubungkan komputer di seluruh dunia sehingga berbagai jenis dan bentuk informasi dapat dikomunikasikan antar belahan dunia secara instan dan global (www.jurnal-kopertis4.org).   Selain kedua pengertian di atas, internet juga disebut sebagai sekumpulan jaringan komputer yang menghubungkan situs akademik, pemerintahan, komersial, organisasi, maupun perorangan. Internet menyediakan akses untuk layanan telekomunikasi dari sumber daya informasi untuk jutaan pemakainya yang tersebar di seluruh dunia. Layanan internet meliputi komunikasi langsung (e-mail, chat), diskusi (usenet news, milis, bulletin board), sumber daya informasi yang terdistribusi (World Wide Web, Ghoper), remote login dan lalu lintas file (Telnet, FTP), serta berbagai layanan lainnya  (www.andhika.com).
Sejalan dengan perkembangan internet, telah banyak aktivitas yang dilakukan dengan memanfaatkan jaringan internet, seperti e-Commerce, e-Banking, e-Government, e-Learning dan lainnya. Salah satu aktivitas yang berkaitan dengan pemasaran adalah e-commerce.  Electronic Commerce (E-Commerce) didefinisikan sebagai proses pembelian dan penjualan produk, jasa dan informasi yang dilakukan secara elektronik dengan memanfaatkan jaringan komputer. Salah satu jaringan yang digunakan adalah internet. . Sementara itu Kalakota dan Whinston mendefinisikan E-Commerce dari beberapa perspektif, yaitu:
1) dari perspektif komunikasi, E-Commerce adalah pengiriman informasi, produk/jasa, atau pembayaran melalui jaringan telepon, atau jalur komunikasi lainnya;
2) dari perspektif proses bisnis, E-Commerce adalah aplikasi teknologi menuju otomatisasi transaksi bisnis dan work flow;
3) dari perspektif pelayanan, E-Commerce adalah alat yang digunakan untuk mengurangi biaya dalam pemesanan dan pengiriman barang; dan
4) dari perspektif online, E-Commerce menyediakan kemampuan untuk menjual dan membeli produk serta informasi melalui internet dan jaringan jasa online lainnya.
Selanjutnya Yuan Gao dalam Encyclopedia of Information Science and Technology (2005), menyatakan E-Commerce adalah penggunaan jaringan komputer untuk melakukan komunikasi bisnis dan transksaksi komersial. Kemudian di website E-Commerce Net, E-Commerce didefinisikan sebagai kegiatan menjual barang dagangan dan/atau jasa melalui internet. Seluruh komponen yang terlibat dalam bisnis praktis diaplikasikan disini, seperti customer service, produk yang tersedia, cara pembayaran, jaminan atas produk yang dijual, cara promosi dan sebagainya.
Seluruh definisi yang dijelaskan di atas pada dasarnya memiliki kesamaan yang mencakup komponen transaksi (pembeli, penjual, barang, jasa dan informasi), subyek dan obyek yang terlibat, serta media yang digunakan (dalam hal ini adalah internet).
Perkembangan teknologi informasi terutama internet, merupakan faktor pendorong perkembangan e-commerce. Internet merupakan jaringan global yang menyatukan jaringan komputer di seluruh dunia, sehingga memungkinkan terjalinnya komunikasi dan interaksi antara satu dengan yang lain diseluruh dunia. Dengan menghubungkan jaringan komputer perusahaan dengan internet, perusahaan dapat menjalin hubungan bisnis dengan rekan bisnis atau konsumen secara lebih efisien. Sampai saat ini internet merupakan infrastruktur yang ideal untuk menjalankan e-commerce, sehingga istilah E-Commerce pun menjadi identik dengan menjalankan bisnis di internet.
Pertukaran informasi dalam E-Commerce dilakukan dalam format dijital sehingga kebutuhan akan pengiriman data dalam bentuk cetak dapat dihilangkan. Dengan menggunakan sistem komputer yang saling terhubung melalui jaringan telekomunikasi, transaksi bisnis dapat dilakukan secara otomatis dan dalam waktu yang singkat. Akibatnya informasi yang dibutuhkan untuk keperluan transaksi bisnis tersedia pada saat diperlukan. Dengan melakukan bisnis secara elektronik, perusahaan dapat menekan biaya yang harus dikeluarkan untuk keperluan pengiriman informasi. Proses transaksi yang berlangsung secara cepat juga mengakibatkan meningkatnya produktifitas perusahaan.
Dengan menggunakan teknologi informasi, E-Commerce dapat dijadikan sebagai solusi untuk membantu perusahaan dalam mengembangkan perusahaan dan menghadapi tekanan bisnis. Tingginya tekanan bisnis yang muncul akibat tingginya tingkat persaingan mengharuskan perusahaan untuk dapat memberikan respon. Penggunaan E-Commerce dapat meningkatkan efisiensi biaya dan produktifitas perusahaan, sehingga dapat meningkatkan kemampuan perusahaan dalam bersaing.


Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian survai, yang dipakai untuk tujuan eksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk menggali informasi tentang pemanfaatan internet sebagai media atau sarana dalam pemasaran produk perusahaan.

Populasi dan wilayah generalisasi penelitian ini adalah Pengusaha Elektronik dan pengguna Elektroni di Yogyakarta.


Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner.

Data yang terkumpul akan dianalisis secara deskriptif dengan tabulasi dan persentase.



Anonim. (2005). Sekilas Perkembangan Internet di Indonesia. www.jurnal-kopertis4.org. diambil 10 Januari 2010.
.

Anonim. (2005). Kamus Istilah Internet.(www.wikipedia.com). diambil 10 Januari 2010.


Andhika. (2005). Apa itu Internet ? (www.andhika.com). diambil 10 Januari 2010.
Dasril (2008). Pengertian E-Commerce (http://dasril.wordpress.com/e-commerce/pengertian-e-commerce/) diambil pada 10 Januari 2010.

Dampak Krisis Global Terhadap Manajemen Sumber Daya Manusia

Dampak Krisis Global Terhadap Manajemen Sumber Daya Manusia

Riuh rendahnya kondisi moneter global yang sudah berlangsung selama sebulan lebih ini gara-gara bangkrutnya salah satu perusahaan keuangan Lehman Brothers di Amerika Serikat. Jelas saja hal itu berpengaruh pada kondisi ekonomi AS. Pasti lambat laun juga berimbas pada seluruh negara, seperti di Eropa dan Asia. Bahkan bisa menjadi ancaman. Hal ini terlihat dari kondisi bursa Asia yang anjlok, IHSG di bursa efek menurun tajam; harga dolar terhadap rupiah menguat sampai senilai Rp 9.665 perdolar US; harga minyak anjlok mencapai 90 dolar US perbarelnya. Walau pemerintah AS sudah mengeluarkan kebijakan bale out senilai 700 miliar dolar US namun masih patut diwaspadai. Apakah lambat laun ada pengaruhnya terhadap dunia usaha Indonesia?
Kalau tidak disiapkan kebijakan moneter dan ekonomi yang stratejik maka dikhawatirkan dapat menimbulkan krisis moneter dan ekonomi jilid kedua. Seperti diketahui Indonesia mengalami krisis moneter dan ekonomi yang parah pada tahun 1997-1998. Ketika itu nilai dolar US yang menguat belipat di sisi yang satu dan sisi lain fundamental ekonomi yang rapuh mengakibatkan  dunia usaha banyak yang kolaps. Akibat lanjutannya adalah terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK).  Akankah hal itu terjadi lagi sekarang? Hal itu sangat bergantung pada derajad pengaruh dari kebijakan bale out AS. Kalau minimal dalam sebulan ini kebijakan itu mampu meredam krisis multidimensi di AS maka diharapkan dapat memperkecil efek negatif terhadap kondisi moneter dan ekonomi global. Sementara di Indonesia, kebijakan uang ketat dan menaikkan BI rate hingga menjadi 9.25% mudah-mudahan dapat menjadi remedi jangka pendek. Selain itu kegiatan ekspor tetap harus digalakkan dengan pemberian insentif fiskal misalnya. Dengan demikian target pertumbuhan ekonomi tahun 2008 sebesar 6.3% bisa terpenuhi.
Di tingkat mikro, perusahaan harus mampu meredam keresahan di kalangan karyawannya yang menyangkut isu PHK. Perusahaan harus memiliki strategi SDM yang efektif dan efisien untuk menghadapi efek domino dari krisis moneter dunia dan domestik. Untuk itu strategi peningkatan produktifitas dan mutu kerja harus dapat diterapkan. Program supervisi terhadap proses produk barang dan jasa semakin diperketat. Pendekatan mutu kehidupan kerja di dalam kelompok-kelompok kerja sangat efektif untuk meningkatkan  produktifitas kerja karyawan. Selain itu anjuran penghematan dalam penggunaan sumberdaya perusahaan, misalnya listerik, BBM, dan air, perlu digalakkan. Disinilah dituntut peran manajer yang mampu mendorong suasana kerja yang nyaman. Koordinasi intensif dari manajer sangatlah dibutuhkan manakala perusahaan sudah memiliki target-target tertentu untuk ekspor, misalnya. Untuk itu diharapkan manajemen kompensasi berupa insentif bonus juga dapat menolong terwujudnya kestabilan produktifitas kerja yang standar

Kondisi krisis finansial global kali ini memang meletakkan perusahaan pada posisi yang lebih sulit, seiring dengan tuntutan untuk tetap bertahan dalam persaingan di industri namun level penjualan terus mengalami pelemahan. Survei KPMG dan Chartered Institute of Personnel and Development (CIPD) terhadap 892 perusahaan di Inggris memberikan gambaran mengenai bagaimana perusahaan menangani kondisi tersebut.

Pemangkasan Biaya dan Benefit
Salah satu hal yang memang wajar terjadi di kondisi perekonomian yang serba sulit seperti ini adalah pemangkasan berbagai biaya dan benefit. Survei ini menemukan bahwa sekitar 38% dari perusahaan Inggris mengurangi perjalanan bisnisnya. 69% diantaranya sudah mengurangi anggaran perjalanan bisnis, sementara 60% menekan perjalanan ke luar negeri.

Penggunaan teknologi seperti teleconference atau videoconference juga lebih marak, tepatnya yakni 62%. Hal ini mungkin disebabkan oleh meningkatnya aktivitas telecommuting demi melakukan efisiensi di kantor. Sekitar 43% juga sudah meningkatkan penggunaan transportasi publik, dan lebih dari separuh (55%) mengurangi entertainment untuk klien. 20% juga mengurangi ketersediaan minuman atau makanan gratis pada saat rapat.

Pekerjaan Lebih Menumpuk
Nyaris separuh atau 48% dari perusahaan yang disurvei mengaku bahwa workload (beban pekerjaan) bagi masing-masing staf semakin meningkat sebagai akibat dari krisis kredit. Sehingga, nyaris persentase yang sama (46%) mengaku level stress mereka juga meningkat. Workload yang meningkat ini mungkin merupakan dampak buruk dari PHK, atau pekerjaan yang bertambah karena memang banyak masalah yang harus diselesaikan di masa krisis ini.

Yang baiknya, perusahaan melihat sedikit dampak krisis kredit terhadap absensi, level engagement karyawan dan produktivitas. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh mayoritas perusahaan yang mengaku meningkatkan komunikasinya dengan karyawan.

Dari hasil survei ini dapat ditarik beberapa kesimpulan:
• Pemangkasan biaya dan benefit merupakan hal penting yang perlu dilakukan organisasi, terutama memangkas biaya perjalanan bisnis dan benefit yang tidak terlalu penting.

• Untuk melakukan efisiensi, maka perusahaan dapat melakukan telecommuting, dan memanfaatkan teknologi untuk mendukung pekerjaan. Galakkan pula pemakaian transportasi publik demi melakukan penghematan.

• Peran komunikasi dan kepemimpinan menjadi semakin penting. Pemimpin perlu mengkomunikasikan mengenai masalah yang dihadapi perusahaan, dan merumuskan langkah-langkah yang dijalankan secara bersama-sama. Pemimpin perlu meyakinkan karyawan bahwa untuk bertahan dalam masa krisis, maka akan membutuhkan kerja keras dari para karyawan.

• Interaksi yang dilakukan secara reguler akan menumbuhkan jalinan hubungan yang baik dengan karyawan, sehingga pemimpin bisa segera menangani jika terdapat masalah seperti demotivasi, stress, dan sebagainya.

Sunday, April 17, 2011

DAMPAK KRISIS GLOBAL TERHADAP PEREKONOMIAN DI INDONESIA

(Pada Sektor Nilai Tukar Rupiah, Perbankan, dan Properti)

KRISIS GLOBAL

Krisis moneter di Amerika Serikat kali ini menimbulkan dampak luar biasa secara global. Hal ini bisa dilihat dari kepanikan investor dunia dalam usaha mereka menyelamatkan uang mereka di pasar saham. Mereka ramai-ramai menjual saham sehingga bursa saham terjun bebas. Sejak awal 2008, bursa saham China anjlok 57%, India 52%, Indonesia 41% (sebelum kegiatannya dihentikan untuk sementara), dan zona Eropa 37%. Sementara pasar surat utang terpuruk, mata uang negara berkembang melemah dan harga komoditas anjlok, apalagi setelah para spekulator komoditas minyak menilai bahwa resesi ekonomi akan mengurangi konsumsi energi dunia.


Di AS, setelah melihat bursa saham Wall Street terus melorot, akhirnya kongres menyetujui program penyelamatan sektor keuangan (troubled asset recovery program - TARP) senilai US$ 700 miliar yang diajukan oleh pemerintah. Namun, karena lamanya negosiasi politik antara pemerintah dan kongres, investor kecewa melihat politikus di Washington tidak memiliki sense of crisis.


Krisis pasar modal (saham dan surat utang) global pada dasarnya hanya memengaruhi investor pasar modal. Tetapi krisis perbankan global bisa mempengaruhi sektor riil ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Inti cerita yang terjadi adalah sektor perbankan AS sedang terpuruk, kekurangan modal, dan enggan meminjamkan dolarnya, termasuk ke bank-bank internasional di Eropa dan Asia.
Akibatnya, perbankan internasional kekurangan dolar untuk memberi pinjaman ke para pengusaha dunia yang membutuhkan dolar untuk investasinya (untuk impor mesin, bahan baku, dan sebagainya), termasuk di Indonesia.
Kita sudah tahu bahwa dolar AS merupakan mata uang inti dalam dunia usaha. Akibatnya, walaupun suku bunga bank sentral AS (atau Fed Funds Target Rate) sampai diturunkan ke 1,5%, suku bunga London Inter-Bank Offer Rate (LIBOR), sebagai patokan suku bunga yang digunakan oleh pelaku ekonomi, melonjak tajam

Masalah rumit yang terjadi sekarang, macetnya sistem pembayaran dan penyaluran kredit global sebagai ‘oksigen untuk napasnya dunia bisnis’. Suku bunga bank sentral bisa rendah, tetapi suku bunga kredit untuk pelaku bisnis, kalaupun bisa dapat pinjaman, sangat tinggi karena perbankan ketakutan meminjamkan dananya. Menurut para ahli ekonomi, sebenarnya hal itu merupakan bahaya sektor perbankan global. Jadi, bukan anjloknya pasar saham, yang sebetulnya bisa melumpuhkan pertumbuhan ekonomi dunia secara perlahan.


Akhirnya, bank sentral dunia mengerti betapa pentingnya melakukan kebijakan yang terkoordinasi. Tujuh bank sentral (termasuk US Federal Reserve, European Central Bank, Bank of England dan Bank of Canada) akhirnya memangkas suku bunganya 0,5%. Ini merupakan yang pertama kalinya kebijakan suku bunga bank sentral dilakukan secara bersamaan dalam skala yang besar. Terjadi di tahun 2008 ini.

Hal lain yang dilakukan adalah kebijakan terkoordinasi bank sentral dan pemerintah dunia selebihnya harus ditujukan untuk memenuhi tiga sasaran. Pertama, memulihkan kembali sistem perbankan dan pembayaran global yang lumpuh agar sirkulasi dana internasional bisa normal kembali - dan bank bisa memberi kredit lagi.
Kedua, mengeluarkan aset bermasalah (terutama surat utang KPR subprime) dari perbankan AS dan memperbesar modal perbankan agar lebih bisa memberi kredit dalam jumlah yang bisa mendukung pertumbuhan ekonomi.


Ketiga, bank sentral dunia harus berani terus menurunkan suku bunga (untuk membantu meringankan bunga kredit) dan, yang lebih penting, pemerintah harus memperbesar belanjanya untuk pembangunan infrastruktur dan memberi stimulus ekonomi - karena investor swasta enggan berinvestasi dalam krisis likuiditas.
Kebijakan di atas bisa berhasil, bisa juga gagal. Hal tersebut beralasan karena kebijakan ekonomi berskala global belum pernah dilakukan dalam sejarah, tetapi risiko terjadinya resesi ekonomi dunia yang parah akan lebih besar kalau bank sentral dan pemerintah dunia tidak melakukan apa-apa.


Kalau berhasil, kapan hasilnya akan kelihatan? Paling cepat dua tahun. Artinya, resesi ekonomi AS dan Eropa akan lebih parah (sementara pertumbuhan ekonomi dunia melambat) pada 2009, sebelum pulih pada 2010. Kenapa? Karena titik terburuk ekonomi AS dan Eropa belum tercapai: misalnya, turunnya harga properti AS (pemicu krisis subprime) belum berakhir (jumlah rumah yang belum terjual masih terlalu banyak), pabrik masih melakukan PHK masal dan masih banyak bank yang harus bangkrut.
Selain itu, dampak stimulus kebijakan moneter dan fiskal memang makan waktu lebih dari satu tahun. Kalau ekonomi dunia baru pulih 2010, kapan pasar saham global pulih? Paling cepat semester 1, 2009, karena pasar saham biasanya menguat 6-9 bulan sebelum sektor riil ekonomi pulih.

DAMPAK KRISIS GLOBAL DI INDONESIA
Dampak resesi ekonomi AS dan Eropa terhadap Indonesia tentunya negatif, tetapi karena net-ekspor (ekspor dikurangi impor) hanya menggerakkan sekitar 8% dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia, maka dampaknya relatif kecil dibandingkan dengan negara tetangga yang ketergantungan ekspornya ke AS besar, misalnya Hong Kong, Singapura, dan Malaysia.


Seperti pada tahun 2001/2002, atau terakhir kali AS mengalami resesi, ada tiga negara di Asia yang tidak terlalu terpukul ekonominya: China, India, dan Indonesia. Ketiga negara ini memiliki penduduk yang banyak sehingga belanja masyarakatnya merupakan motor penggerak ekonomi yang kuat. Untuk ekonomi Indonesia, dampak negatif kenaikan harga bahan bakar minyak sebesar 125% pada 2005 jelas lebih besar dari pada dampak resesi ekonomi AS.


Namun demikian, krisis finansial global dan lumpuhnya sistem perbankan global yang berlarut akan berdampak sangat negatif terhadap Indonesia, karena pembiayaan kegiatan investasi di Indonesia (baik oleh pengusaha dalam maupun luar negeri) akan terus menciut, penyerapan tenaga kerja melambat dan akibatnya daya beli masyarakat turun, yang akhirnya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi.
Dari sini kita tahu bahwa dampak krisis moneter di Amerika Serikat yang menyebabkan krisis global yang berdampak terhadap perekonomian Indonesia tidak hanya pada melemahnya nilai tukar Rupiah, namun juga pada berbagai sector lain yang lebih rumit yaitu sector perbankan dan properti. Berikut akan dijelaskan dengan singkat.

1. Nilai Tukar Rupiah
Kemorosotan yang tajam atas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Juga anjloknya nilai tukar Rupiah atas beberapa mata uang regional dan internasional.
Pada awalnya krisis hanya sebatas melanda negara Amerika Serikat, Eropa, dan negara-negara yang bergabung di Uni Eropa. Namun, aliran gelombang krisis yang keras ternyata sampai di kawasan Asia.
Para investor yang menanamkan modalnya pada sektor non riil mulai menarik kembali dana-dana mereka yang tertanam di lantai bursa. Penarikan dana dengan denominasi mata uang asing oleh investor di beberapa negara kawasan Asia tujuannya adalah menutupi kerugian keuangan yang tengah melanda melanda negara-negara investor tersebut.
Kebijakan penarikan dana semakin agresif seiring dengan keringnya likuiditas negara-negara investor. Perilaku ini bisa kita cermati dengan meroketnya bunga pasar uang antar bank.
Di Indonesia kejatuhan IHSG yang pada penutupan 27/10/2008 mencapai 6,96% atau turun sebesar 48,96 point dengan total IHSG sebesar 1,166 point merupakan nilai yang sama di tahun 2000. Merosotnya IHSG yang mencapai angka 6,96% adalah penurunan tertinggi untuk kawasan Asia. Kecuali Bursa Filipina yang mencapai 12%. Otoritas Bursa terpaksa mensuspensi perdagangan saham pada sesi pertama. Selain itu bursa regional seperti Han Seng, Nikkei, Kospi, Seoul, dan Strait Times Singapore turun rata-rata sekitar 3%-5%.
Gejolak penarikan dana oleh investor asing terlihat pada Surat Utang Negara. Tercatat sedikitnya Rp 2,1 triliun dana berdenominasi asing yang tertanam di SUN telah keluar.
Derasnya penarikan dana oleh investor berimbas kepada pelemahan nilai tukar rupiah terhadap beberapa mata uang asing. Pemerintah lewat Bank Indonesia mencoba untuk menahan laju pelemahan rupiah lewat intervensi pasar. Namun, tentu saja dengan kekuatan yang seharusnya sudah terkalkulasi.
Tentu saja pemerintah lewat beberapa kebijakan serta kemudahan-kemudahan berinvestasi mengajak para investor untuk menanamkan uangnya pada sektor riil. Lantas sejauh mana pengaruh krisis keuangan global yang mengakibatkan anjloknya IHSG dan merosotnya nilai tukar rupiah kepada sektor rill?
Pada beberapa komoditas yang bersentuhan langsung dengan petani kecil atau pengusaha kecil dan menengah yang berorientasi ekspor sangat dirasakan sekali dampak terjadinya krisis keuangan global ini.
Pesanan-pesanan dari pembeli yang berkedudukan di luar negeri terpaksa dibatalkan. Mereka lebih memfokuskan diri kepada restrukturisasi keuangan internal. Terlebih lagi semakin sulitnya mendapat kucuran kredit dari perbankan dalam negeri.
Begitu juga yang dialami beberapa petani yang menggarap komoditas-komoditas seperti kelapa sawit, karet, dan kopra. Ketiga komoditas tersebut di lapangan terjadi penurunan harga jual yang mencapai 60%-70%.
Akibat penurunan yang tajam tersebut membuat petani tidak mampu lagi melakukan produksi dikarenakan hasil penjualan yang diterima masih di bawah ongkos produksi secara total keseluruhan.
2. Perbankan
Likuiditas adalah kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban hutang-hutangnya,dan dapat membayar kembali semua deposannya, serta dapat memenuhi permintaan kredit yang diajukan para debitur tanpa terjadi penangguhan. Pada saat ini akibat krisis keuangan global, perbankan nasional mengalami imbasnya terutama ketatnya likuiditas di perbankan nasional. Ditambah dengan besarnya uang pemerintah yang ada di Bank Indonesia (BI) membuat likuiditas perbankan sangat ketat sehingga suku bunga ikut naik pula. Tingkat suku bunga acuan (BI rate) yang sekarang berada pada posisi 9,50%. Saat ini Perbankan nasional memberlakukan prosedur penyaluran kredit investasi yang diperketat.
Industri Perbankan menyambut positif langkah Pemerintah menaikkan nilai penjaminan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), menjadi maksimum Rp. 2 Milliar, naik 20 kali lipat dari maksimum Rp 100 Juta. Payung hukumnya berupa Perppu tentang Perubahan atas UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang telah ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
3. Properti
Sektor properti yang sangat terasa menerima imbasan dari krisis ini. Pertumbuhan industri properti dalam negeri yang lamban ditandai dengan adanya penjadwalan kembali atas rencana proyek yang sudah ditetapkan.
Perbankan sepertinya menyetop sementara untuk pemberian kredit sektor properti. Bagi industri properti pendanaan dari perbankan merupakan kebutuhan dana yang vital di samping mereka mengalokasikan dana internal.
Mungkin yang sangat dirasa adalah kenaikan suku bunga kredit pemilikan rumah. Dengan ditetapkannya suku bunga acuan atau BI rate yang baru sebesar 9.5% akan menambah cost of fund dari pengembang jika sumber dana berasal dari pinjaman. Kenaikan ini memberatkan sisi konsumen yang akan menanggung kisaran bunga kredit kepemilikan sebesar 13%-16%.
Dampak dari pengaruh krisis keuangan global mulai mengganggu sektor properti, salah satunya pengembang mulai menahan dana (wait dan see) untuk berinvestasi.
Tingkat suku bunga acuan (BI rate) yang sekarang berada pada posisi 9,50 persen diakui telah membebani pengembang saat ini, utamanya dalam memasarkan perumahan mereka.
Ketua DPD Real Estate Indonesia Sulawesi Selatan, Ir H Jamaluddin Jafar di Makassar, Senin (10/11). Mengatakan bahwa mereka belum bisa berharap banyak pasar properti dalam waktu dekat bisa bergairah kembali, bila kondisi perekonomian masih seperti ini.
Pengetatan perbankan mengeluarkan kredit investasi, katanya, menyebabkan sektor properti semakin kesulitan untuk bertahan. mereka berharap untuk bisa keluar dari kesulitan ekonomi ini, perbankan bisa memberikan "stimulan" dengan menurunkan BI rate 8,50% sampai 9% sebagai instrumen penting untuk mendorong bisnis properti ini bergairah kembali.
Ia mengatakan, dampak dari pengetatan yang diberlakukan oleh perbankan, membuat uang muka yang diberlakukan oleh perbankan naik sampai 50% dari harga rumah, dari sebelum krisis global ini terjadi sekitar 20-30%.
"Sekarang pembeli atau user itu tetap ada, namun kendala kita ketika user ini berhubungan dengan perbankan, mereka sangat terbebani karena ada bank yang menerapkan pembayaran uang muka ini sampai 50% dari harga rumah, belum lagi pengetatan yang diterapkan oleh perbankan kepada user," ungkapnya.
Jamaluddin menambahkan, sektor properti ini dipastikan akan seret bila pemerintah dan perbankan tidak segera memberi stimulan, termasuk target pemenuhan rumah oleh REI dipastikan akan terkoreksi dan sulit dicapai dengan kondisi perekonomian tidak stabil.
Pertumbuhan sektor properti berarti juga menumbuhkan industri yang lain. Sebagai contoh, pembangunan sebuah gedung akan menyerap produksi industri semen, paku, kawat, baja, kayu dan seng. Dari berbagai sektor industri yang tumbuh itu, maka akan banyak tenaga kerja yang terlibat. Bukan hanya pekerja di sektor properti saja, tetapi juga tenaga kerja di berbagai sektor penunjang lainnya. Untuk itu properti harus tetap tumbuh.
Struktur pembiayaan di sektor properti sekarang ini berbeda dari 1998-an. Saat itu, pengembang memang banyak melakukan pinjaman ke bank untuk membangun properti. Namun, saat ini pengembang lebih banyak mengandalkan equity (modal) daripada loan (pinjaman). Sekarang lebih banyak pengembang yang menggunakan kerjasama equity, misalkan lahan milik orang lain, kita yang bangun. Tapi, untuk proyek besar masih pakai loan atau pinjaman.
Ekspansi bisnis properti pascakrisis tahun 2003 hingga 2008, kredit properti yang dipakai pengembang mencapai Rp 186,3 triliun, (lihat tabel) sebagian besar atau 64 persen senilai Rp 119 triliun adalah kredit pemilikan rumah (KPR). Sementara kredit konstruksi dan kredit real estat hanya mencapai 36%, masing-masing 21,9% atau senilai Rp 40,8 triliun adalah kredit konstruksi dan 14,22% atau Rp 26,5 triliun adalah kredit real estat.
Konsumen semakin pandai memilih proyek-proyek properti yang akan dibelinya dengan menyeleksi pengembang yang sudah teruji lolos dari krisis. Mereka semakin pintar untuk memilah pengembang yang kredibel dan memilih proyek yang sesuai dengan kemampuan ekonominya.
Mereka membeli sesuai dengan kebutuhannya. Tidak banyak konsumen yang menebar uang di banyak proyek properti sebagai ajang spekulasi. Mereka juga lebih berhati-hati dalam memilih proyek properti, dengan melihat bagaimana track record pengembangnya.

Peran Bank Indonesia dalam Memerangi Kemiskinan

1. Latar Belakang
SEJAK awal kemerdekaan, bangsa Indonesia telah mempunyai perhatian besar terhadap terciptanya masyarakat yang adil dan makmur sebagaimana termuat dalam alinea keempat Undang-Undang Dasar 1945. Program-program pembangunan yang dilaksanakan selama ini juga selalu memberikan perhatian besar terhadap upaya pengentasan kemiskinan karena pada dasarnya pembangunan yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Meskipun demikian, masalah kemiskinan sampai saat ini terus-menerus menjadi masalah yang berkepanjangan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk miskin di Indonesia tahun 1996 masih sangat tinggi, yaitu sebesar 17,5 persen atau 34,5 juta orang. Hal ini bertolak belakang dengan pandangan banyak ekonom yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan pada akhirnya mengurangi penduduk miskin.

Perhatian pemerintah terhadap pengentasan kemiskinan pada pemerintahan reformasi terlihat lebih besar lagi setelah terjadinya krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997. Meskipun demikian, berdasarkan penghitungan BPS, persentase penduduk miskin di Indonesia sampai tahun 2003 masih tetap tinggi, sebesar 17,4 persen, dengan jumlah penduduk yang lebih besar, yaitu 37,4 juta orang.

Bahkan, berdasarkan angka Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada tahun 2001, persentase keluarga miskin (keluarga prasejahtera dan sejahtera I) pada 2001 mencapai 52,07 persen, atau lebih dari separuh jumlah keluarga di Indonesia. Angka- angka ini mengindikasikan bahwa program-program penanggulangan kemiskinan selama ini belum berhasil mengatasi masalah kemiskinan di Indonesia.




2. Masalah
Dalam strategi yang dilakukan pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan, diantaranya adalah dengan memajukan sektor riil dengan mendorong masyarakat untuk mandiri menjadi wirausaha. Hal ini harus didukung permodalan untuk memiliki factor-faktor produksi. Akan tetapi peran Bank Indonesia dan Perbankan secara nasional, masih rendah. Karena itu dalam pembahasan berikutnya akan dibahas peran-peran apa saja yang dilakukan oleh Bank Indonesia dan Perbankan secara nasional serta bagaimana kemiskinan masih menjadi masalah sampai saat ini. Serta sejauh mana peranan perbankan nasional secara umum dalam mengatasi kesenjangan di masyarakat.

3. Pembahasan
Sebagai otoritas moneter, perbankan dan sistem pembayaran, tugas utama Bank Indonesia tidak saja menjaga stabilitas moneter, namun juga stabilitas sistem keuangan (perbankan dan sistem pembayaran). Keberhasilan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas moneter tanpa diikuti oleh stabilitas sistem keuangan, tidak akan banyak artinya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Stabilitas moneter dan stabilitas keuangan ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Kebijakan moneter memiliki dampak yang signifikan terhadap stabilitas keuangan begitu pula sebaliknya, stabilitas keuangan merupakan pilar yang mendasari efektivitas kebijakan moneter. Sistem keuangan merupakan salah satu alur transmisi kebijakan moneter, sehingga bila terjadi ketidakstabilan sistem keuangan maka transmisi kebijakan moneter tidak dapat berjalan secara normal. Sebaliknya, ketidakstabilan moneter secara fundamental akan mempengaruhi stabilitas sistem keuangan akibat tidak efektifnya fungsi sistem keuangan. Inilah yang menjadi latar belakang mengapa stabilitas sistem keuangan juga masih merupakan tugas dan tanggung jawab Bank Indonesia.

Pertanyaannya, bagaimana peranan Bank Indonesia dalam memelihara stabilitas sistem keuangan? Sebagai bank sentral, Bank Indonesia memiliki lima peran utama dalam menjaga stabilitas sistem keuangan. Kelima peran utama yang mencakup kebijakan dan instrumen dalam menjaga stabilitas sistem keuangan itu adalah:
Pertama, Bank Indonesia memiliki tugas untuk menjaga stabilitas moneter antara lain melalui instrumen suku bunga dalam operasi pasar terbuka.

Kedua, Bank Indonesia memiliki peran vital dalam menciptakan kinerja lembaga keuangan yang sehat, khususnya perbankan.

Ketiga, Bank Indonesia memiliki kewenangan untuk mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran. Bila terjadi gagal bayar (failure to settle) pada salah satu peserta dalam sistem sistem pembayaran, maka akan timbul risiko potensial yang cukup serius dan mengganggu kelancaran sistem pembayaran

Keempat, melalui fungsinya dalam riset dan pemantauan, Bank Indonesia dapat mengakses informasi-informasi yang dinilai mengancam stabilitas keuangan.

Kelima, Bank Indonesia memiliki fungsi sebagai jaring pengaman sistim keuangan melalui fungsi bank sentral sebagai lender of the last resort (LoLR). Fungsi LoLR merupakan peran tradisional Bank Indonesia sebagai bank sentral dalam mengelola krisis guna menghindari terjadinya ketidakstabilan sistem keuangan

Dari tugas-tugas atau fungsi Bank Indonesia Diatas, terlihat bahwa peran BI sangat vital, karena berhubungan langsung dengan perbankan secara nasional. Oleh karena itu, Peran BI disini dalam penanggulangan Kemiskinan yaitu penyaluran dana kredit kepada masyarakat terlihat tidak langsung. Karena BI hanya mengatur stabilitas keuangan secara umum dan macro terhadap perbankan nasional. Berbeda dengan perbankan umum secara nasional yang mempunyai hubungan langsung dengan usaha masyarakat mikro. Dimana Peran Intermediasi dana perbankan sangat mendukung sektor riil bagi pembangunan ekonomi yang secara langsung dapat mengentaskan kemiskinan dan kesenjangan. Salah satu upaya untuk menanggulangi kemiskinan adalah melalui pemberdayaan UMKM yang telah terbukti memiliki daya tahan yang relatif kuat dalam menghadapi krisis ekonomi yang lalu. Peran penting UMKM itu sendiri dapat ditinjau dari beberapa aspek, yaitu jumlah unit usaha yang terbentuk, penyerapan tenaga kerja, perannya dalam peningkatan produk domestik bruto (PDB) dan sumbangannya terhadap ekspor nasional. Dalam kurun waktu 1997-2001 rata-rata unit UMKM secara nasional mencapai 99,81% dari total perusahaan yang ada. Tenaga kerja yang bekerja dalam sektor UMKM ini juga mencapai 99,48% dari total pekerja nasional, selain itu UMKM memberikan sumbangan hingga 55,1% kepada PDB Nasional.

4.Kesimpulan
Peran Bank Indonesia dan Perbankan secara umum sangat dibutuhkan masyarakat. Karena peranan keduanya adalah saling bersinergi, dimana Bank Indonesia mengatur perbankan secara umum dan serta menetapkan kebijakan bunga yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat. Disisi lain Perbankan secara umum sangat berperan dalam intermediasi dana. Dimana kebutuhan permodalan dalam memiliki factor-faktor produksi pasti membutuhkan dana. Dengan adanya UMKM yang dibuat oleh pemerintah memungkinkan para pengusaha kecil dan menengah mendapatkan bantuan permodalan guna memajukan usahanya yang secara langsung akan menaikan pendapatan ekonomi masyarakat. Sehingga ketika kemakmuran yang didapatkan masyarakat merata, tidak ada kesenjangan yang terlalu jauh antara masyarakat mampu secara ekonomi dan tidak mampu.

Profil PT.Djarum

Profil PT.Djarum, tbk

PT Djarum adalah salah satu perusahaan rokok di Indonesia. Perusahaan ini mengolah dan menghasilkan jenis rokok kretek dan cerutu. Ada tiga jenis rokok yang kita kenal selama ini. Rokok Cerutu (Terbuat dari daun tembakau dan dibungkus dengan daun tembakau pula), rokok putih (Terbuat dari daun tembakau dan dibungkus dengan kertas sigaret), dan rokok kretek (Terbuat dari tembakau ditambah daun cengkeh dan dibungkus dengan kertas sigaret).
PT Jarum adalah salah satu jenis perusahaan perseroan yang ada di Indonesia. Namun dahulu PT Jarum adalah sebuah perusahaan perseorangan karna didirikan oleh seorang Oei Wie Gwan. PT. Djarum memiliki, 5 nilai-nilai inti dalam pengembangan perusahan. Nilai-nilai itu adalah .Fokus pada pelanggan, Profesionlisme, Organisasi yang terus belajar, Satu Keluarga, Tanggung Jawab Sosial.

Tahun Berdirinya

Rokok kretek adalah sebuah produk yang racikannya ditemukan oleh H. Djamhari (Kebangsaan Indonesia) pada tahun 1880 di kota Kudus (Kudus kota keretek). Saat itu H. Djamhari adalah seorang perokok dan ia sering merasa sesak napas. Saat ia menderita sesak, ia menggunakan minyak cengkeh untuk mengobati penyakitnya. Hingga suatu ketika ia mencoba meracik daun tembakau dan bunga cengkeh untuk rokoknya. Alhasil percobaannya tersebut membuahkan hasil dan rokok tersebut disebut kretek karena letupan api yang membakar cengkeh menghasilkan bunyi tek-tek-tek.
Perusahaan rokok kretek Djarum berdiri pada 25 Agustus 1950 dengan 10 pekerja. Oei Wie Gwan, mantan agen rokok Minak Djinggo di Jakarta ini, mengawali bisnisnya dengan memasok rokok untuk Dinas Perbekalan Angkatan Darat. Pada tahun 1955, Djarum mulai memperluas produksi dan pemasarannya. Produksinya makin besar setelah menggunakan mesin pelinting dan pengolah tembakau pada tahun 19


Fokus pada pelanggan.

Pelanggan merupakan bagian yang sangat penting dalam keberlangsungan suatu perusahaan, tanpa ada pelanggan, tanpa ketertarikan pelanggan terhadap produk yang telah diproduksi, perusahan akan mandet. PT.Djarum selalu mengutamakan agar pelanggan selalu puas terhadap produknya, dengan memberikan harga yang relatif rendah meskipun keuntungan yang dicapai berkurang, hal ini diatasi dengan peningkatan hasil yang baik dan jumlah penjualan, selain itu juga PT.Djarum memberikan dana kepada beberapa pelanggan untuk memasarkan produknya sehingga tercipta hubungan yang sangat dekat.
Profesionalisme. Profesional dalam membangun perusahaan secara baik, dimulai dengan perekrutan karyawan-karywati yang potensial (salah satu elemen vitas bagi kegemilangan gerak sebuah perusahaan). Kemampuan perusahaan untuk melakukan inovasi secara terus menerus. seiring tuntutan tersebut, PT.Djarum selalu memberikan respon yang inovatif pada konsumen. Profesional dalam mengimplementasikan strategi-strategi yang telah dirancang dengan penuh optimis. Dengan profesionalisme tersebut semuanya dapat tercapai.
Organisasi yang terus belajar. Dengan keberhasilan yang diperoleh berupa penghargaan-penghargaan dan produk-produk yang inovatif,PT.Djarum tidak berpuas hati, dengan keberhasilan tersebut, selalu belajar keberhasilan itu. Tidak hanya selalu menilai perusahaannya sendiri. Melakukan sharing dengan perusahaan lain berbagi pengetahuan.
Satu keluarga.Rasa kekeluargaan sangat terasa di lingkungan PT.Djarum, ini terlihat ketika pada waktu istirahat, terkadang para direksi bergabung bersama karyawan,berbagi cerita, bercanda, ini menciptakan kesenangan bagi para karyawan.Disinilah kekompakan dari segenap jajaran manajemen dan karyawan. Mereka bersama-sama untuk memajukan perusahaan,dengan dukungan organisasi yang solid,serta kerja keras dari semua karyawan.
Tanggung Jawab Sosial. Dalam hal tanggung jawab sosial, untuk karyawan, PT.Djarum sangat memperhatikan karyawannya dengan memberikan jaminan sosial berupa jaminan kesehatan,hadiah tahunan, tunjangan, jaminan kecelakan,jaminan pensiun. PT.Djarum juga memberikan beasiswa pendidikan pada anak-anak karyawan sehingga dapat melanjutkan pendidikannya dengan baik. Tanggung Jawab Sosial yang diberikan PT.Djarum tidak hanya pada karyawannya tetapi juga pada masyarakat umum.Untuk melaksanakan tanggung jawab ini PT.Djarum melakukan Coorporate Social Responbility (CSR), yang sangat jelas saat ini, yaitu : Djarum memberikan dananya 30 Milliar dalam pembangunan lapangan bulutangkis, GOR PT.Djarum Bakti Bangsa, yang digunakan untuk merekrut para pemain bulutangkis yang handal berkelas dunia. Dalam bidang lingkungan PT.Djarum memberikan secara cuma-cuma pohon-pohon untuk penghijauan.
Dengan ke lima nilai pengembangan tersebut, membuat PT.Djarum semakin memantapkan perjalanannya dalam industri rokok murni pribumi, tanpa tersentuh oleh aset-aset asing. Semangat Nasionalismelah yang semakin membangkitkan perusahaan ini.
Kepemilikan


Keuangan

PT Djarum system upah harian. Untuk upah harian, Jerih payah buruh pabrik ini memang terbilang kecil bagi ukuran gaji buruh di Jakarta. Mereka dibayar dengan upah perjam sekitar Rp.9.750/per 1.000 batang buat satu grup yang terdiri dua orang tersebut. Tetapi biasanya, satu grup bisa membuat 3.000 batang dalam waktu kurang dari 4 jam. PT Djarum untuk tahun 2006 menyentuh 6,99 milyar rupiah. Jumlah itu didapati lewat omset perbungkusnya mencapai angka 23,66 milyar rupiah/perhari. Sementara itu, produksinya tahun lalu tercatat sekitar 38,36 unit milyar dengan asumsi sekitar 127,87 batang/perhari.







Bidang Usahanya

PT. Djarum adalah salah satu perusahaan rokok di Indonesia. Perusahaan ini mengolah dan menghasilkan jenis rokok kretek dan cerutu. Bidang usaha yang digeluti oleh PT Djarum tidak lain dan tidak bukan ialah rokok. Dalam sehari perusahaan ini mampu menghasilkan omeset sekitar 23,66 milyar rupiah/perhari, karna sasaran penjualanya tidak hanya di Indonesia saja tetapi juga di Austria, Polandia, Prancis, Spanyol, Portugal, Turki, Belgia, Belanda, Luxemburg, Jerman, Brazil, Jepang, Malaysia, Kanada, Usa dll.

Kejayaan

Sejak awal berdiri pada tahun 25 Agustus 1950 perusahaan ini sudah menjadi perusahaan yang sangat pesat dalam perkembangan nya. Karna didirikan oleh Oei Wie Gwan, mantan agen rokok Minak Djinggo. PT Djarum sejak bediri sampai sekarang masih saja mengalami masa kejayaan. Hal ini di karnakan Perusahaan ini memiliki 76 lokasi kerja (70 di Kudus, 3 di Pati, 1 Rembang dan 2 di Jepara) ini cukup diakui masalah kesehatan dan keselamatan kerja karyawannya. Hal ini dibuktikan dari perolehan Zero Accident Acknowledgement pada tahun 2002. Pada tahun 2004 di Audit External Keselamatan dan Kesehatan dengan hasil 85%. Karena hasil auditan yang memuaskan, pada tahun 2005 memperoleh Bendera Emas. Pada tahun 2007, hasil auditan meningkat menjadi 93% dan tahun 2008 menunggu memperoleh Bendera Emas kembali. Karena hal itulah masalah keselamatan dan kesehatan bukan lagi menjadi masalah bagi perusahaan ini.
Selain masalah keselamatan dan kesehatan, perusahaan ini juga aktif dalam bidang koperasi. Pada tahun 1976, koperasi karyawan dibuka. Koperasi yang memiliki anggota sebanyak 51 ribuan orang ini memiliki kas hingga 75 ribu miliaran hingga Januari 2008 ini. Karena ketekunannyalah, koperasi ini juga memperoleh penghargaan sebagai Koperasi Teladan dari tahun 1993 sampai dengan 1996. Selain itu, perusahaan ini juga memiliki kinerja yang sesuai dengan standar ISO (ISO tahun 9001-1994). Pada tahun 2001 mendapatkan penghargaan dan ISO diperbaiki menjadi ISO 9001-2000.



Analisis Strategi

PT. Djarum mengeluarkan beberapa produk diantaranya Djarum Super, Djarum Coklat, Djarum 76, Djarum Istimewa. Kesemuanya merupakan rokok berjenis kretek. Akan tetapi djrum melihat pangsa pasar ini stagnan sehingga PT.Djarum merambah pasar rokok mild, diantaranya adalah L.A Light, L.A Menthol, Djarum Super Mezzo, Djarum Black dan Djarum Black Menthol.
Selain itu Djarum mengembangkan cita rasa yang lebih varian dengan mengkombinasikan cita rasa cappucino, dan Teh yang dikenal dengan nama Brand Djarum Black Tea dan Djarum Black cappuccino.
Produk dalam kategori rokok mild diluncurkan oleh PT Djarum di akhir tahun 2005, perusahaan ini meluncurkan rokok mild dengan merek Djarum Super Mezzo untuk melengkapi portofolio produk Djarum Super dan merambah segmen premium serta menjadi alternatif pilihan rokok mild baru dengan cita rasa tinggi. Khusus untuk peluncuran PT Djarum membuat program promosi modern dengan menggunakan balon mini zeppelin yang berputar-putar disekitar wilayah Jakarta selama 3 minggu. Program tersebut juga diiringi dengan iklan televisi yang menampilkan visual yang luar biasa, iklan televisi Mezzo versi “leap” dan “race”.
PT Djarum menggunakan pendekatan strategi yang berbeda dalam membangun merek Djarum Super Mezzo, yaitu dengan menambahkan kata “Djarum Super” dalam merek rokok mild tersebut, merek Djarum Super yang sudah memiliki awareness yang tinggi dan brand image yang kuat di tengah konsumen diharapkan mampu mengangkat penjualan produk mild yang baru ini masuk ke pasar rokok mild.
Kenyataannya, hasil dari sebuah penelitian adalah top of mind merek rokok mild masih didominasi oleh Sampoerna A Mild (79,5%), diikuti oleh Star Mild (12,1%). Djarum Super Mezzo berada di peringkat ketiga (4,2%). Untuk merek kedua yang diingat setelah merek pertama yang terlintas atau unaided awareness dikuasai oleh Star Mild (39,5%), Sampoerna A Mild (18,4%) dan Djarum Super Mezzo (14,7%).
Djarum Super Mezzo dan Star Mild memiliki karakteristik akan personality dan association yang mirip. Djarum Super Mezzo dipersepsikan memiliki sifat yang santai dan easy going, berpenampilan menarik, dan penuh percaya diri, namun merek ini juga memiliki posisi yang sama dengan Star Mild yang dekat dengan atribut menikmati kehidupan malam, menyukai petualangan dan maskulin.

Advance Your Business Through Custom Neon Signs

The basic premise why businesses use store advertising is to attract attention and capture the interest of the customers. If you get into this kind of industry and you open up your very own legal or dental firm or push through with your family-owned shoe store or pizza parlor, you have to tap into every form of advertisement there is that will work best for your investment. Doing so will guarantee you customers every single day. In turn, this will result to a constant flow of profits into your business.

Neon signs have been long been a favored choice for many businesses out there. And, there are plenty of these signs that are sold in outlet shops that anyone can buy which were already pre-fabricated. Often these signs sport the standard open panels and disclose the basic information of what type of business the establishment is. In other words, you'll see signs that say law firm, dentist, pizza parlor and shoe store only. But, the name of the business is never indicated.

When you do advertising, you have to get involved. It is your business after all. Hence, you should make use of more effective marketing and promotional means. In essence, you have to use something more than just the simple neon ads. Instead, you should be choosing custom neon signs for they are far more effective and will do more for your business.

Having custom neon signs will help you in the advancement of your newly-opened business. Just because you have a stall in the mall or you have a spot in the business district, you will take up the slack and will not do anything to promote what you've got. When everyone in your business strip uses ordinary neon signage, you stand no chance of being recognized. Getting a personalized one will exceedingly help.

Some customizations that you can get will do help your business a great deal. Instead of just seeing the type of business indicated in the sign, you can personally add your firm's or store's name into them. That will bring a brand of distinction into your business.

Further customizations such as choosing your own distinct font style, font size, layout and background will help you in bringing style into the façade of your business. By adding personally-handpicked colors, you can elevate the glamour that will draw a lot of attention to potential customers. Classiness and style in your signs will captivate lots of would-be buyers and this will help advance your business a great deal.
People in a hurry can spot your business easily during the night when you use custom neon signs, open signs letting people near you that your open and ready to serve them.

Article Source: http://EzineArticles.com/?expert=Peter_P_Andersen

Solving the Brand+DRTV Equation

Mixing traditional advertising agencies with DRTV specialists can be a lot like pouring oil into water. While the two substances can exist in the same container without much problem, they never truly combine into one homogeneous mixture. And while there's no question of DRTV's value in a brand's overall marketing strategy, traditional agencies still tend to view the medium - and the tactics used by producers and media buyers within the space - with a dose of skepticism.

I guess it stands to reason, seeing that the first crop of infomercials and DRTV spots weren't exactly brand-worthy. Boisterous pitchmen hawked their wares while toll-free numbers flashed across the television screen, and overly anxious testimonials backed up products that claimed to solve the world's problems. Production values trailed far behind those of traditional commercials, with most DRTV relegated to after-midnight time slots.


Fast-forward to 2011, and the direct response landscape is much different. A combination of self-regulation, government oversight and the realization that diminishing numbers of people would buy junk from grainy, yell-and-sell commercials at 2 a.m. pushed DRTV to new limits. Attracted to the medium for its accountability, measurability and ability to connect directly with consumers, the brands plowed their way into DRTV, thus lending it even more credibility.

But even the new face of DRTV hasn't managed to convince all brand managers of the medium's influence and viability. Many of them still tune out when they're presented with the potential advantages of infomercials, and it's somewhat understandable. Frankly, in most cases it would be foolish to eliminate image commercials from a media mix and replace them with a DRTV-only campaign.

Enter the oil-and-water equation. Time and time again, we've seen that, despite the pushback from traditional advertising agencies, image spots and DRTV work together beautifully. One supports the other. Where the shorter formats massage the consumer's mind with positive associations, personality and feelings about a product or service, DRTV commercials lead viewers to the next stage.

Persuasive Power

DRTV picks up where branding leaves off by persuading consumers to take action by picking up the phone, visiting a Web site or catching a closer look during their next trip to the mall. A long-form DRTV program allows enough time to fully educate and excite an interested audience about a product, thanks to the 30 minutes a marketer has to take the viewer step-by-step through the persuasion process.

And of course there's the added benefit of DRTV creating brands, not just promoting existing brands. Famous brands like Proactiv Solution, Magic Jack, OxiClean, OrangeGlo, the George Foreman Grill, Beachbody, Snuggie, bareMinerals and Euro-Pro were birthed by DRTV and live on in retail - launched into mega brands at a fraction of the usual $150 million to $200 million to create a standard brand.

Such successes have driven more than one general advertising agency into the DRTV arena. After all, they thought to themselves, how hard could it be? The problem is that these agencies aren't equipped to handle direct response. DR agencies have years of proven response-generating techniques that traditional agencies are unfamiliar with. Those of us who specialize in this category understand the delicate touch points in the human psyche that can stimulate an immediate response - absolutely essential for creating self-sustaining marketing campaigns.

General agencies are catching onto these nuances, and either referring their clients' DRTV work to specialists, or hiring those experts to handle that particular aspect of a client's campaign. We've worked quite successfully with a dozen major agencies over the past 17 years. The relationships aren't always easy to manage, and their success or failure often depends on whether the traditional agency staff can check their egos at the door and allow direct response experts to do their jobs. When that happens, everyone wins, especially the client.
Author of over 175 published articles, Tim Hawthorne is Founder, Chairman and Executive Creative Director of Hawthorne Direct, a full service DRTV and New Media ad agency founded in 1986. Since then Hawthorne has produced or managed over 800 Direct Response TV campaigns for clients such as Apple, Braun, Discover Card, Time-Life, Nissan, Lawn Boy, Nikon, Oreck, Bose, and Heifer International. Tim is a co-founder of the Electronic Retailing Association, has delivered over 100 speeches worldwide and is the author of the definitive DRTV book, The Complete Guide to Infomercial Marketing. A cum laude graduate of Harvard, Tim was honored with the prestigious "Lifetime Achievement Award" by the Electronic Retailing Association (ERA) in 2006.

Article Source: http://EzineArticles.com/?expert=Timothy_Hawthorne
 
Copyright © tukang blog
Designer : belajar internet