Sunday, May 22, 2011

Teori Permintaan Agregat dalam Perekonomian Terbuka



Teori Permintaan Agregat dalam Perekonomian Terbuka
Dalam bab sebelumnya telah dibahas teori Klasik tentang pasar barang yang menyatakan bahwa output atau income hanya ditentukan oleh faktor ril dan tidak bisa dipengaruhi oleh pemerintah melalui rekayasa permintaan, seperti pengeluaran pemerintah, pengeluaran konsumsi masyarakat, investasi, ataupun supply uang. Pada bab 5 ini kita akan lihat teori makro Keynes sebagai lanjutan dari uraian sebelumnya pada bab 4. Keynes menyatakan bahwa output dapat dipengaruhi oleh pengeluaran aggregate (aggregate sepending) dan pengeluaran aggregate itu sendiri dapat dipengaruhi oleh kebijaksanaan pemerintah. Output dan pengeluaran agregat dapat saling mempengaruhi secara timbal balik. Semakin tinggi output atau income maka semakin tinggi pula pengeluaran atau belanja agregat sehingga permintaan aggregate akan semakin tinggi pula. Sebaliknya bila pengeluaran aggregate tinggi (artinya aggregate demand juga tinggi) maka output juga tinggi sebagai respon dari produsen yang menaikan output untuk memenuhi permintaan aggregate. Output yang tinggi akan mengakibatkan income juga tinggi.
Tingginya income tidak lain berarti tinginya pertumbuhan ekonomi, sesuatu yang diharapkan oleh setiap orang termasuk pengambil kebijakan (pemerintah) karena akan mendatangkan kemakmuran bagi masyarakat. Pertanyaannya adalah bagaimana mekanisme aggregate demand dalam menentukan output atau income tersebut?
Dalam bab ini kita akan pelajari lebih lanjut tentang aggregate demand menurut teori Keynesian, yaitu hubungan antara Agregate Demand (pengeluaran aggregate) dengan pendapatan atau output. Komponen aggregate demand tersebut, seperti yang telah disingung pada bab 2, adalah yaitu konsumsi (C), investasi (I), pengeluaran pemerintah (G) dan perdagangan luar negeri (NX). Keempat komponen ini merupakan faktor yang menentukan besarnya output atau income. Dalam bentuk persamaan dapat ditulis sebagai berikut:
AD = C + I + G + NX (5.1)
Dalam keadaan seimbang (equilibrium) maka AD harus sama dengan income atau output:
AD = Y = C + I + G + NX
Bila salah satu komponen aggregate demand berubah maka akan terjadi suatu ketidak seimbangan. Misalnya, pengeluaran agregat yang direncanakan lebih besar dari output maka akan terjadi kekurangan output atau produksi, sebaliknya bila rencana pengeluaran agregat lebih kecil dari output maka akan terjadi kelebihan produksi sehingga persediaan barang (inventory) akan menumpuk. Pada periode berikutnya produsen akan melakukan penyesuaian dengan menambah atau mengurangi output sesuai dengan permintaan agregat. Pada akhirnya akan keseimbangan akan kembali terjadi. Pertumbuhan ekonomi pada pokoknya adalah pergerakan titik keseimbangan dari satu titik ke titik yang lain yang lebih tinggi. Dan sebelum titik keseimbangan tercapai selalu terjadi proses ketidak seimbangan menuju titik keseimbangan yang baru dan lebih tinggi atau lebih rendah dari titik sebelumnya.
Dalam uraian ini kita mengasumsikan bahwa harga adalah konstan atau tidak berubah. Ini juga berarti semua variable adalah diasumsikan ril dan tidak ada inflasi. Pada bab 8 asumsi ini akan didrop ketika membicarakan pengaruh harga terhadap output.
5.1 Konsumsi
Konsumsi merupakan komponen AD yang penting karena pengaruhnya sangat besar terhadap pembentukan output. Untuk sementara kita anggap ekonomi yang dibicarakan adalah ekonomi tertutup, tidak ada perdagangan luar negeri sehingga AD sama dengan konsumsi, investasi dan pengeluaran pemerintah.
Seperti disebutkan pada Bab 2 output sama dengan income karena proses produksi pada hakekatnya menghasilkan barang dan jasa yang akan dibeli oleh rumah tangga berupa aggregate demand. Disamping itu proses produksi juga menghasilkan imbalan terhadap faktor produksi yang dipakai dalam proses produksi. Tenaga kerja misalnya yang dipakai dalam proses produksi akan mendapatkan imbalan berupa upah yang selanjutnya akan menjadi pendapatan bagi tenaga kerja tersebut. Selanjutnya pendapatan ini akan menimbulkan permintaan aggregate dalam ekonomi atau konsmsi rumah tangga. Tetapi dari pendapatan tersebut tidak seluruhnya dipakai untuk konsumsi. Sebagian dari pendapatan tersebut ada yang disimpan dalambentuk tabungan atau saving (S). Dengan demikian penggunaan pendapatan tersebut hanya ada dua yaitu untuk konsumsi (C ) dan menabung (S), atau,
Y = C + S
Persentase yang dibelanjakan dan ditabung tergantung dari tingkat pendapatan masyarakat. Pada negara maju biasanya persentase tabungan lebih tinggi dibanding dengan negara yang belum maju dimana pendapatan penduduknya rendah sehingga tabungan juga rendah.
Apa yang menentukan besarnya konsumsi? Konsumsi ditentukan oleh tingkat pendapatan, semakin tinggi pendapatan maka semakin tinggi pula belanja atau konsumsi. Selain itu besarnya konsumsi juga dipengaruhi oleh perilaku atau kecenderungan masyarakat. Ada masyarakat yang mengalokasikan konsumsi tinggi dan ada juga yang rendah. Kecenderungan ini disebut dengan Marginal Propesity to Consume (MPC), sedangkan kecenderungan untuk menabung disebut dengan Marginal Propesnsity to Save (MPS). Dalam bentuk persamaan dapat ditulis:
C = a + zY; a > 0
Konstanta a menunjukkan besarnya konsumsi bila pendapatan tidak ada atau konsumsi minimal. Hal in dapat terjadi dalam jangka pendek, misalnya orang yang menganggur, sementara belum dapat pekerjaan dia tetap melakukan konsumsi untuk bertahan hidup dengan cara menjual aset yang ada atau berhutang atau menerima sumbangan (transfer). Dalam jangka panjang tentu hal ini tidak bisa dipertahankan karena setiap orang harus menghasilkan (berproduksi) untuk dapat mengkonsumsi, sehingga dalam jangka panjang persamaan konsumsi adalah C = zY. Fungsi konsumsi seperti persamaan (5.3) diatas dapat diplotkan pada sebuah grafik fungsi konsumsi .
Koefiseien z adalah besarnya alokasi atau kecenderungan untuk konsumsi dari disposable income yang disebut dengan MPC. Definisi MPC adalah besarnya perubahan konsumsi akibat perubahan satu unit income, atau dengan persamaan;
MPC atau z mempunyai nilai diantara nol sampai dengan 1, tidak kecil dari nol dan tidak besar dari satu. Sesuai dengan persamaan (5.3) maka persentase alokasi untuk konsumsi dan saving adalah 100 % atau kofisien saving dan konsumsi adalah 1. Ini berarti alokasi pendapatan untuk tabungan adalah sebesar (1-z). Bila koefisien z = 0,8 maka kofisien tabungan adalah 0,2. Bila persamaan (5.3) dan (5.4) digabung maka akan dapat persamaam untuk tabungan (S):

Y = C + S
= a + zY + S
S = Y – a – zY
S = - a + (1-z) Y (5.6)
Koefisien (1-z) disebut dengan kecenderungan untuk menabung atau Marginal Propensity to Save (MPS). Persamaan (5.6) menunjukkan bahwa tabungan tergantung dengan pendapatan dan MPS. Perhatikan bila income nol maka tabungan adalah negatif (terangkan apa artinya dan kenapa?). Sama seperti MPC maka rumus MPS adalah;
MPC ditambah dengan MPS mesti berjumlah 1 sebagai konsekuensi dari persamaan budget constraint Y = C + S diatas.


5.2 Investasi
Investasi adalah pengeluaran oleh swasta untuk pembelian barang-barang dan jasa yang akan dipakai dalam proses produksi atau dengan kata lain sama dengan permintaan oleh swasta terhadap barang dan jasa (input) yang diperlukan untuk investasi produktif. Faktor yang menentukan pengeluaran investasi berbeda dengan konsumsi. Perbedaanya terletak dalam hal tujuan membeli barang, yaitu untuk invesatasi dengan harapan untuk mendapatkan keuntungan sedangkan konsumsi dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan pokok. Perbedaan lain adalah sumber pembiayaan untuk investasi dapat berasal dari berbagai sumber pembiayaan dan keuangan dimana jumlahnya tidak tergantung dari kondisi keuangan sekarang tetapi pada harapan kondisi keuangan dimasa mendatang. Pembiayaan konsumsi rumah tangga berasal berasal dari pendapatan sekarang. Jadi pengeluaran investasi jumlahnya bisa jauh melebihi jumlah pendapatan sekarang, jadi tidak tergantung dengan income. Apa yang menentukan besarnya investasi dalam masyarakat?
Faktor yang menentukan pengeluaran investasi ada dua yaitu harapan keuntungan (expectation of future profit) yang akan diperoleh dimasa mendatang dan biaya dari uang yang harus ditanggung akibat pengeluaran uang tersebut. Harapan keuntungan tersebut biasanya dinyatakan dalam persentase keuntungan per satuan waktu dan biaya penggunaan dana dinyatakan dalam persentase atau disebut tingkat bunga. Sebuah investasi akan dilakukan apabila harapan keuntungan lebih besar dari biaya penggunaan dana atau tingkat bunga (interest rate). Semakin besar selisih kedua faktor ini maka semakin besar pula investasi yang akan dilakukan. Tingkat keuntungan yang diharapkan tersebut disebut dengan Marginal Efficiency of Capital (MEC). Semakin besar selisih antara MEC dengan tingakat bunga yang berlaku maka akan semakin besar pula volume investasi yang akan dilakukan. Secara grafik dapat dilihat seperti pada Gambar 5.2. Grafik MEC adalah negatif, berbanding terbalik dengan tingkat bunga yang berlaku. Semakin rendah bunga yang berlaku maka semakin besar pula harapan keuntungan sehingga investasi juga semakin besar.
Faktor-faktor yang mempengaruhi investasi tersebut dapat juga dinyatakan secara matematis sebagai berikut:
I = K – bi b > 0 (5.8)


            K adalah investasi yang otonom atau exogenous, i adalah tingkat bunga dan b adalah koefisien yang menunjukkan seberapa sensitive investasi tersebut terhadap perubahan tingkat bunga. Sesuai dengan grafik 5.2 diatas maka koefisien b adalah bertanda negatif yang berarti semakin rendah tingkat bunga maka semakin tinggi pengeluaran investasi karena semakin banyak proyek investasi yang layak untuk dilaksanakan.
Selain dari faktor bunga, dalam kenyataan sehari-hari investasi bukan hanya ditentukan oleh bunga tetapi dipengaruhi oleh banyak faktor ekonomi yang lain dan bahkan juga dipengaruhi oleh faktor sosial dan politik. Misalnya keamanan, kestabilan politik, kepastian hukum di suatu Negara berpengaruh sangat besar terhadap masuknya investor dari luar negeri.

Kaitan Investasi dan Tabungan
Bila dalam suatu ekonomi tidak ada pengeluaran pemerintah (berarti tidak ada pemerintah) dan tidak ada perdagangan luar negeri maka tabungan sama dengan investasi. Hal ini dapat dibuktikan dari persamaan Y = AD, bila kedua ruas persamaan dikurangi dengan konsumsi (C) maka diperoleh:
Y – C = AD – C
Y – C adalah saving (dari Y = C + S) dan AD – C adalah rencana investasi (dari AD = C + I). Ingat dalam hal ini tidak ada pengeluaran pemerintah (G) dan perdagangan luar negeri (NX), sehingga didapatkan I = S.
Kesimpulan ini dapat juga diturunkan dari grafik Gambar 5.3. Jarak antara garis konsumsi (C = a + zY) dengan garis (AD = D + zY) adalah sama dengan investasi (I) dan jarak antara garis konsumsi dengan garis 450 adalah saving (S) pada setiap titik income. Hanya pada titik E saving dan investasi sama besar yaitu sama-sama nol. Bila pendapatan berada diatas titik keseimbangan income Y0 maka pendapatan lebih tinggi dari pengeluaran agregat dan saving lebih besar dari investasi, sebaliknya bila pendapatan berada dibawah titik keseimbanganY0 maka pendapatan lebih kecil dari pengeluaran agregat dan saving menjadi lebih kecil dari investasi.


Belanja pemerintah adalah pengeluaran yang dilakukan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk pembelian barang dan jasa. Pengeluaran pemerintah ini tercantum dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Tetapi tidak semua pengeluaran APBN dimasukaan kedalam pengeluaran pemerintah. Yang termasuk dalam pengeluaran pemerintah adalah belanja barang dan jasa pada tahun yang bersangkutan dan merupakan hasil proses produksi. Pembelian tanah atau pembayaran gaji pegawai tidak termasuk dalam kategori pengeluaran pemerintah karena tidak merupakan barang hasil proses produksi.
Faktor yang menentukan besarnya pengeluaran pemerintah tentunya adalah faktor ekonomi. Selain itu adalah faktor politik, sosial dan faktor-faktor strategis lainnya yang semuanya tergantung dengan pemerintah. Karena itu pengeluaran pemerintah ini sebagian besar ditentukan diluar kekuatan ekonomi pasar, dan karena itu disebut dengan “exogenous” artinya teori ekonomi tidak bisa menerangkannya.

5.4 Multiplier atau Faktor Pelipat
Setelah diketahui faktor yang mempengaruhi komponen aggregate demand maka pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana mekanisme komponen AD tersebut mempengaruhi output atau pendapatan. Hal ini dapat dijelaskan melalui konsep multiplier. Sebelum diterangkan lebih lanjut maka ada beberapa asumsi yang harus dibuat, yaitu,
Sekarang kita mulai analisis dengan sebuah contoh berikut. Misalnya, bila pengeluaran aggregate dinaikan sebesar D maka berapa besar dampaknya terhadap output? Bila ada tambahan pengeluaran aggregate atau permintaan agregat sebesar D maka akan terjadi tambahan produksi sebesar D dan kenaikan output atau income sebesar D juga. Selanjutnya pengeluaran sebesar D tadi akan menjadi pendapatan bagi penjual yang menerima pengeluaran D. Oleh penjual ini uang sebesar D akan dibelanjakan lagi untuk memenuhi kebutuhannya tetapi tidak sebesar D. Besarnya pengeluaran pada putaran kedua ini adalah z∆ D yaitu sesuai dengan kecenderungan berbelanja mereka atau Marginal Propencity to Consume (MPC). Tambahan income yang tercipta adalah sebesar ∆D + z∆D atau (1+z) ∆D. Demikianlah seterusnya akan terjadi pelipatan dampak secara berantai melalui putaran pengeluaran antara konsumen dan penjual atau produsen. Dampak akhir dari tambahan pengeluaran sebesar ∆D adalah sebesar 1/(1-z) kali ∆D yang merupakan penjumlahan dari semua tambahan income pada setiap putaran (Tabel 5.1).

Dari uraian diatas dapat ditulis bahwa total tambahan income adalah sebagai berikut:
∆ AD = = ∆ Y0 (5.8)
Dimana = α = multiplier. Atau dapat juga ditulis :

Bila pengeluaran naik sebesar 100 juta dan MPC adalah 0.8, berapa tambahan pendapatan akibat tambahan pengeluaran tersebut? Dengan memasukkan angka diatas maka didapat tambahan pendapatan ∆Y = 1/(1-0,8) kali 100 = 500 juta. Berarti multipliernya adalah sebesar 5 kali lipat. Multiplier didefinisikan sebagai besarnya kelipatan perubahan output akibat perubahan satu unit pengeluaran (C, I, G).
Formula multiplier ini dapat diturunkan dengan cara lain. Besarnya setiap perubahan output yang terjadi harus sama dengan besarnya perubahan aggregate demand sehingga,

∆ Y0 = ∆ AD. (5.9)
Tambahan pengeluaran (∆AD) sama dengan tambahan pengeluaran putaran pertama ∆D ditambah dengan pengeluaran yang disebabkan oleh pelipatan (multiplier), c∆Y0 sehingga
∆ AD = ∆ D + c∆Y0 (5.10)
Gabungan persamaan (5.9) dengan (5.10) didapatkan persamaan,
∆ Y0 = ∆ D + c∆Y0
c∆ Y0 = (5.11)
Atau multiplier dapat juga diturunkan dari persamaan konsumsi dan agregat demand seperti dibawah ini.
Y = AD = C + I + G
Substitusikan fungsi konsumsi kedalam persamaan diatas.
Y = a + I + G + cY (5.12)
Kumpulkan faktor Y dan autonomous spending sehingga:
Y – cY = D
Y = D
Proses dari pelipatan income atau multiplier ini dapat digambarkan secara grafis pada Gambar 5.3.
Pada awalnya titik keseimbangan adalah pada titik E0 dengan pendapatan OY0 dan pengeluaran agregat OAD0. Kemudian sektor bisnis melihat ada prospek untuk meraih keuntungan dimasa yang akan datang sehingga mereka menambah investasi sebesar ∆D (dapat berupa ∆I). Misalkan tambahan investasi ini meningkatkan AD pada putaran pertama sebesar AE0. Penambahan AD ini langsung menjadi tambahan pendapatan bagi penjual barang input yang dibeli oleh investor, yaitu sebesar AB dan selanjutnya direspon oleh produsen dengan manaikan output dengan jumlah yang sama. Pada putaran kedua tambahan output atau pendapatan kembali dibelanjakan sesuai dengan MPC yaitu sebesar cAB = BC. Pengeluaran tambahan AD ini kembali menaikan pendapatan dan direspon oleh produsen dengan menaikan output sehingga akhirnya proses ini berhenti pada titik E1 dengan tingkat pengeluaran yang lebih tinggi dari semula yaitu, yaitu AD0 AD1.dan pendapatan juga lebih tinggi yaitu sebesar 1/(1-c) kali lipat dari ∆D atau Y0Y1.
Secara geometric MPC adalah slope atau kemiringan dari kurva kosumsi. Karena kurva Consumsi menurut persamaan (5.4) adalah C = a + cY, maka MPC adalah koefisien c, yaitu sama dengan = .

Dari uraian diatasa ternyata besaran multiplier tergantung dengan besaran MPC atau koefisien c, yaitu proporsi dari income yang dibelanjakan oleh konsumen untuk keperluan konsumsi. Semakin besar proporsi income yang dibelanjakan maka semakin besar pula multiplier dan semakin besar pula dampaknya terhadap kenaikan income atau output. Tetapi harus diingat bahwa proses ini hanya bisa berlangsung dalam waktu pendek. Dalam jangka panjang hal ini tidak bisa berlanjut karena income tidak bisa ditopang oleh konsumsi yang tinggi saja karena konsumsi juga teragantung dari income, sedangkan income / output juga ditentukan oleh faktor ril seperti investasi disamping konsumsi, pengeluaran pemerintah dan net export.
Secara empiris hal tersebut diatas adalah benar bahwa konsumsi dalam jangka pendek bisa mendorong pertumbuhan ekonomi karena ekonomi belum mencapai full employement. Misalnya masih banyak pabrik yang belum bekerja penuh, tenaga kerja banyak yang menganggur, dan seterusnya sehingga output masih bisa didorong tumbuh tanpa investasi baru. Tetapi untuk pertumbuhan ekonomi jangka panjang, artinya setelah ekonomi mencapai full employement, maka diperlukan investasi baru untuk berlanjutnya pertumbuhan ekonomi.

5.5 Peranan Pemerintah dan Multiplier Pajak
Pendapatan yang dapat dibelanjakan oleh konsumen biasanya adalah pendapatan yang telah dipotong pajak oleh pemerintah. Ini berarti pengeluaran berkurang sehingga dampak multiplier juga berkurang. Sebaliknya pemerintah juga dapat menambah pendapatan masyarakat secara langsung dengan memberikan subsidi (income transfer) kepada anggota masyarakat sehingga kemampuan multiplier menjadi besar. Bagaimana bentuk multiplier kalau pendapatan yang dipakai adalah disposable income atau adanya transfer income kepada anggota masyarakat? Akibat pajak pendapatan dan transfer income fungsi konsumsi akan berobah menjadi:
C = a + c(Y-T) + Tr Besarnya pajak tergantung dengan besarnya pendapatan, sehingga T = tY, dan income transfer diasumsikan autonomous, artinya tidak tergantung dengan apapun kecuali sepenuhnya tergantung dengan pertimbangan pemerintah. Persamaan konsumsi menjadi sebagai berikut.
C = a + c(Y – tT) + Tr
C = a + cY – ctY + Tr
C = a + c (1- t) Y + Tr
Substitusikan ke dalam persamaan Y = AD = C + I + G, untuk ekonomi tertutup, sehingga menjadi:
Y = a + c(1 – t) Y + Tr + I + G (5.13)
Pengeluaran independent (autonomous spending) dikumpulkan menjadi satu,
D = a + I + G + Tr
Y = D + c(1 – t)Y
Y = D + c(1 – t) Y
Y (1 – c(1 – t) = D
Y = D (5.13)
Dari persamaan diatas αG = disebut multiplier dengan pajak pendapatan, sedangkan (1 - c(1 - t) adalah MPC dari disposable income dimana (1 – t) adalah bagian dari income yang tersisa setelah membayar pajak.
Ternyata pajak pendapatan mengurangi kemampuan multiplier karena sebagian dari income yang seharusnya dapat dibelanjakan dikeluarkan untuk membayar pajak sehihgga tambahan output yang dihasilkan dari tambahan pengeluaran menjadi lebih kecil. Secara grafis dampak dari intervensi pemerintah terhadap pengeluaran agregat dapat dilihat pada Gambar 5.5. Jadi pemerintah dapat mempengaruhi permintaan agregat melalui tiga cara, yaitu: melalui pengeluaran pemerintah (G), melalui pajak (T) dan melalui income transfer (Tr).


5.6 Net Export
Komponen terakhir dari agregat demand adalah net export. Alasan memakai net export telah dibahas pada Bab 2. Faktor yang mempengaruhi export antara lain adalah pendapatan negara yang mengimport, semakintinggi pendapatan mereka maka semakin tinggi juga kecenderungan mereka mengimport sehingga export menjadi tinggi. Bila terjadi resesi di negara Amerika Utara, Jepang atau Eropa maka biasanya export dari Indonesia akan menurun. Faktor lain yang mempengaruhi adalah nilai tukar Rupiah dan biaya produksi dalam negeri. Bila nilai rupiah menjadi turun maka barang export akan menjadi murah sehingga export meningkat. Biaya produksi mempengaruhi daya saing produk export, semakin murah biaya produksi maka semakin bersaing produk tersebut di pasar international.



5.7 Keseimbangan Pasar Barang
Permintaan Agregat atau agregat demand (AD) yang telah dibicarakan diatas merupakan salah satu sisi dari pasar barang dan jasa. Sisi lainnya adalah penawaran agregat (AS). Dalam uraian diatas kita telah bahas bahwa permintaan agregat ditentukan oleh empat komponen yaitu konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah dan net export. Masing komponen AD ini kemudian mempengaruhi besarnya output yang akan dihasilkan oleh ekonomi melalui proses multiplier. Hubungan antara AD dan output (income) digambarkan pada grafik yang berhubungan positif, artinya penambahan output atau income berbanding lurus dengan penambahan AD atau komponennya. Harus diingat bahwa dalam uraian tersebut dampak penambahan AD terhadap harga adalah konstan, artinya harga diasumsikan tidak berobah walaupun permintaan naik (AD naik). Pada uraian selanjutnya asumsi ini akan dirobah dimana penambahan AD akan langsung mempengaruhi harga sehingga akan menimbulkan inflasi dan seterusnya.
Dalam uraian berikut ini AD akan dibahas dari sisi hubungannya dengan harga. Hubungan AD dengan harga adalah negatif bukan lagi positif seperti hubungan AD dengan output (Y). Dalam ekonomi mikro hubungan permintaan dan harga komoditi adalah negatif. AD didefinisikan sebagai hubungan antara pengeluaran atas barang dan jasa dengan tingkat harga umum.
Penawaran agregat (AS) merupakan penjumlahan horizontal dari semua penawaran unit-unit yang ada dalam perekonomian negara sehingga membentuk penawaran agregat. Jadi kurva AS sama seperti kurva marginal cost, menaik sesuai dengan semakin tingginya harga barang dan jasa. Jadi hubungan harga dengan barang adalah positif seperti halnya pada kasus ekonomi mikro. AS didefinisikan sebagai hubungan antara jumlah output yang diproduksi dan tingkat harga umum. Interaksi antara AD dan AS akan menentukan tingkat tingkat harga dan jumlah barang dan jasa yang akan ditawarkan di pasar barang.
Bentuk kurva AS adalah seperti pada Gambar 5.5, mula-mula mendatar kemudian menaik. Kurva AS ini dapat dilihat tiga bagian yaitu daerah mendatar, daerah menanjak dan daerah vertikal. Daerah mendatar (A sampai B) adalah daerah dimana kenaikan AD tidak menyebabkan harga naik, karena ekonomi masih belum full employment atau belum bekerja penuh. Masih banyak pabrik yang belum beroperasi dengan kapasitas penuh atau masih banyak tenaga kerja yang menganggur. Bila AD dinaikan maka produsen akan merespon menambah output, dengan menambah input , merekrut tenaga kerja yang masih menganggur, meningkatkan kapasitas produksi, dan lain-lain. Penambahan output ini tidak menimbulkan kenaikan harga karena ekonomi belum full employment. Pada daerah BM kenaikan AD mulai mempengaruhi tingkat harga umum. Karena ekonomi sudah mendekati full employment maka menaikan permintaaan akan mengakibatkan harga naik sehingga menimbulkan inflasi. Hal ini karena kenaikan permintaan tidak bisa diimbangi secara penuh oleh kenaikan output sehingga terjadi rationalisasi. Pada daerah M kekanan output tidak bisa lagi dinaikan karena ekonomi sudah sangat ketat, kenaikan permintaan akan diikuti oleh kenaikan harga barang dan jasa untuk merasionalisasi konsumen yang sanggup membayar dengan harga mahal. Keseimbangan di pasar barang terjadi bila kurva AD dan AS berpotongan pada satu titik setelah mengalamai berbagai proses penyesuaian melalui multiplier.




5.8 Keseimbangan Pasar Barang, Tenaga kerja dan Uang
Sekarang kita lihat keterkaitan antara ketiga pasar yang telah dipelajari yaitu pasar barang, pasar tenaga kerja dan pasar uang serta variable ekonomi makro lainnya. Salah satu inti teori Keynesian adalah bahwa pasar barang, pasar uang dan pasar tenaga kerja saling terkait satu sama lain. Perubahan atau ketidak seimbangan pada salah satu pasar akan berpengaruh terhadap pasar yang lain. Dan pasar baru dikatakan seimbang apabila semua pasar tidak lagi mengalami perubahan atau ketidakseimbangan. Perhatikan Gambar 5.7.
Dari ketiga pasar tersebut maka pasar barang dan pasar uang lebih dominan mempengaruhi output, sedangkan pasar tenaga kerja lebih banyak mengikuti perkembangan dua pasar lainnya, terutama pasar barang. Bial output bertambah maka permintaan terhadap tenaga kerja akan ikut bertambah karena diperlukan dalam proses produksi. Ini adalah pandangan demand side economy. Tetapi menurut pandangan supply side economy, pasar tenaga kerja justru memegang peranan penting dalam mempengaruhi output dan income, karena output tidak mungkin naik tanpa adanya penambahan faktor produksi ril. Karena itu menambah output harus menambah tenaga kerja dan faktor-faktor lainnya. Pandangan ini lebih banyak condong ke pandangan teori makro klasik.
Terimakasih Atas Kunjungannya
Judul: Teori Permintaan Agregat dalam Perekonomian Terbuka
Ditulis oleh winarno adhi Prasetyo
Rating Blog 5 dari 5
Item Reviewed: Teori Permintaan Agregat dalam Perekonomian Terbuka
Semoga artikel Teori Permintaan Agregat dalam Perekonomian Terbuka ini bermanfaat bagi saudara. Silahkan membaca artikel kami yang lain.

Artikel Terkait

1 komentar:

UII Official said... Balas Komentar

Terimakasih atas informasinya, sangat membantu.
salam kenal dari saya mahasiswa fakultas Ekonomi :)

Post a Comment

Komentar anda sangat berguna untuk perkembangan blog anda dan blog ini. Anda mendapat backlink GRAATIS , Silahkan Berkomentar...

 
Copyright © tukang blog
Designer : belajar internet