Saturday, November 20, 2010

Strategic Inflection Point



Istilah yang tercantum dalam judul tulisan ini terus terang baru saya temukan kembali ketika melakukan kajian terhadap model sustainable market-ing enterprise yang telah saya kembangkan sejak 1998. Strategic Inflection point (SIP) adalah suatu kondisi ketika perusahaan berada di persimpangan jalan, bahwa berbagai perubahan yang terjai bisa memaksa perusahaan punya peluang besar untuk lebih suksws lagi atau justru menjadi the beginning of the end. SIP ini adalah istilah yang ditemukan oleh Andy Grove yang dipaparkan di bukunya yang terkenal, Only the Paranoid Survive.

Sebagaimana mungkin sudah anda ketahui model sustainable Market-ing Enterprise terdiri dari tiga submodel: Sustainablity, Market-ing dan Enterprise. Submodel sustainablity adalah sub model yang biasanya saya jelaskan untuk menggambarkan perjalanan bisnis perusahaan. Kemudian submodel market-ing adalah submodel yang biasa saya pakai untuk menjelaskan langkah-langkah apa yang harus dilakukan utnuk merespon berbagai perubahan yang terjadi sehingga perusahaan terus tumbuh dan menang. Sementara, submodel enterprise saya pakai untuk menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan agar organisasi perusahaan siap mendukung implementasinya.


Terus terang SIP erat kaitannya dengan submodel sustainability. Model yang saya adopsi dari sustainable model dari David Hurst sebetulnya sudah memberikan gambaran yang cukup komprehensif tentang perjalanan perusahan. Soalnya, submodel yang iilhami oleh model konservasi alam memang memberikan gambaran bukan hanya mengenai berbagai tahap perjalanan perusahaan, melainkan juga gambaran ketika perusahaan atau organisasi apapun pada suatu waktu-setelah mencapai sukses- bisa terjerembab ke dalam krisis atau terus tumbuh. Dalam model konservasi alam David Hurst, gambaran perjalanan semacam ini dilukiskan dalam model infinity, yang selain dikenal oleh orang yang akrab dengan matematika juga dipakai oleh Grup Lippo sebagai logo perusahaan.


Di submodel sustainability, biasanya saya menjelaskan bahwa setelah perusahaan mencapai tahap exploitation dan kemudian menemukan winning formula, maka yang biasanya dilakukan adalah menempatkan winning formula itu sebagai benda suci yang tidak boleh diutak-atik. Sayangnya, orang lupa bahwa winning formula sebenarnya erat kaitannya dengan kondisi lingkungan yang berlaku pada saat melewati tahapan exploitation dan kemudian mencapai sukses. karena melupakan semacam ini, tahu-tahu perusahaan menghadapi ancaman kelangsungan usaha. Dan repotnya, ketika sedang dipuncak kesuksesan, orang biasanya sulit diajak mengkaji apakah winning formula itu masih relecan dengan realitas lingkungan baru atau tidak. Sangat sedikit orang atau perusahaan yang mau melakukan kajian ketika sedang dipuncak kesuksesan. salah satunya adalah Andi Grove.

Bila anda sudah membaca buku karangan Andy Grove yang terbit pada 1996 itu, anda akan tahu mengapa Grove membuat judul yang provokatif pada bukunya. Ia, misalnya, tahu bahwa istilah paranoid merupakan istilah untuk menggambarkan orang yang diliputi suasana ketakutan berlebihan. Takut kalah dengan orang lain atau takut menghadapi perubahan besar yang bakal terjadi. Seringkali orang yang paranoid ini jadi tampak rewel dan mengganggu. tapi menurut Grove, orang yang paranoid inilah yang akan bertahan atau terus menang. Karena, orang semacam ini yang justru paling sadar bahwa kesuksesan yang sekarang diraih tidak akan berlangsung terus.


Bagaimana dengan Grove? Ia sendiri ternyata mengaku sebagai orang yang paranoid. Soalnya, meski saat ia menulis buku Intel sedang berada di puncak kesuksesan, ternyata ia khawatir akan kelangsungan perusahaan. Padahal Intel pada saat itu bukan hanya mencapai sukses besar dalam bisnis, tetapi juga dalam penguasaan teknologi. Dan apa yang menjadi pangkal kekhawatiran Grove? Ternyata segudang. Ia, misalnya , cemas dengan perubahan produk yang cepat dan produk yang muncul ketika pasar masih belum paham. Selain itu, ia pun khawatir pada orang-orang jagoan yang bekerja di perusahaan. Orang semacam ini biasanya cenderung puas diri. Dan yang mungkin tidak terbayangkan bagi banyak orang, Grove ternyata juga khawatir pada kompetisi. Yang bakal memunculkan perusahaan yang bisa menghasilkan produk lebih baik dan lebih murah dibandingkan buatan Intel.


Barangkali anda akan setuju bahwa Grove memang paranoid. Namun, ia kemudian menjelaskan mengapa ia punya sikap semacam itu. Salah satunya adalah kasus IBM. Perusahaan yang dulunya tidak terbayangkan bakal bisa dikalahkan itu ternyata bukan hanya bisa dikalahkan, bahkan kemudian berada diambang kehancuran. Dan hal serupa bukan mustahil bakal terjadi pada Intel. Beruntung IBM kemudian cepat melakukan adaptasidengan perkembangan lingkungan usaha dan kembali sukses. Tapi, kemungkinan menemukan "angin kedua" juga tidak selalu besar. Dan yang lebih penting lagi, tidak menjamin bakal mengembalikan posisi semula.


Itulah sebabnya Grove lebih memilih untuk mengenali SIP ketika sedang berada di puncak kesuksesan. Sehingga, perusahaan tidak terjerembab kedalam krisis dan yang lebih penting perusahaan bisa terus mempertahankan posisinya.


Oleh: Hermawan Kartajaya

(tulisan ini pernah dimuat di majalah Gamma, 26 April - 2 Mei 2000)
Terimakasih Atas Kunjungannya
Judul: Strategic Inflection Point
Ditulis oleh winarno adhi Prasetyo
Rating Blog 5 dari 5
Item Reviewed: Strategic Inflection Point
Semoga artikel Strategic Inflection Point ini bermanfaat bagi saudara. Silahkan membaca artikel kami yang lain.

Artikel Terkait

0 komentar:

Post a Comment

Komentar anda sangat berguna untuk perkembangan blog anda dan blog ini. Anda mendapat backlink GRAATIS , Silahkan Berkomentar...

 
Copyright © tukang blog
Designer : belajar internet